:D

Minggu, 24 September 2017

Laporan PENGUAPAN AIR MELALUI PROSES TRANSPIRASI

PENGUAPAN AIR MELALUI PROSES TRANSPIRASI
II.            TUJUAN
Untuk mengetahui proses dan kecepatan penguapan air tumbuhan melalui proses transpirasi serta faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
III.         DASAR TEORI
Transpirasi adalah proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan,yaitu berupa cairan, uap atau gas. Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata, kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Transpirasi adalah proses evaporasi pada tumbuhan (Sasmitamihardja, 1996).
Penguapan air dari tumbuhan disebut transpirasi (Salisbury, 1995). Transpirasi adalah hilangnya air dalam bentuk uap air dari batang dan daun tumbuhan hidup. Jumlah yang mengalami penguapan dari batang sangatlah sedikit, kehilangan air terbesar dari proses transpirasi terjadi melalui daun (Tim pembina, 2014).
Kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangna tersebut sangat kecil dibanding dengan yang hilang melalui stomata. Sebagian besar dari air, sekitar 99 persen, yang masuk kedalam tumbuhan meninggalkan daun dan batang sebagai uap air. Proses tersebut dinamakan transpirasi. Sebagian besar dari jaringan yang terdapat dalam daun secara langsung terlibat dalam transpirasi. Pada waktu transpirasi, air menguap dari permukaan sel palisade dan mesofil bunga karang ke dalam ruang antar sel. Dari ruang tersebut uap air berdifusi melalui stomata ke udara. Air yang hilang dari dinding sel basah ini diisi air dan protoplas. Persediaan air dari protoplas, pada gilirannya, biasanya diperoleh dari gerakan air dari sel-sel sekitarnya, dan akhirnya tulang daun, yang merupakan bagian dari sistem (Loveless, 1991: 97).
Proses penurunan kehilangan air juga dapat dilakukan dengan penutupan stomata, penggulungan daun dan penurunan potensial air daun. Penurunan potensial air daun mungkin dapat dilakukan dengan peningkatan perubahan tekanan turgor, yang sangat tergantung pada elastisitas dinding sel, atau perubahan potensial osmotik, yang sangat tergantung pada konsentrasi larutan dalam sel (Chaves et al. 2003 dalam Adisyahputra 2011). Kehilangan air daun juga dapat dicapai dengan memperkecil luas permukaan daun dan  mereduksi konduktansi stomata (Rauf & Sadaqat 2008 dalam Adisyahputra 2011).
Pada  musim  panas,  transpirasi meningkat dengan cepat pada pagi hari, puncak laju transpirasi terjadi pada siang hari. Semakin sore laju transpirasi semakin menurun. Pada malam hari laju transpirasi dapat dikatakan nol (Fried, 2005 dalam Putra 2013). Air yang diserap tumbuhan sebagian kecil digunakan untuk proses metabolisme dan dipertahankan di dalam sel untuk membentuk turgor sel, namun sebagian besar akan dilepaskan kembali ke atmosfer. Hilangnya air ke atmosfer dapat terjadi melalui proses transpirasi, gutasi, sekresi, dan perdarahan. Transpirasi adalah hilangnya air dalam bentuk uap dari batang dan daun tumbuhan hidup. Jumlah yang mengalami penguapan dari batang sangatlah sedikit, kehilangan air terbesar dari proses transpirasi terjadi melalui daun (Hanum, 2008).
Transpirasi dilakukan oleh tumbuhan melalui stomata, kutikula, dan lentisel. Berdasarkan atas sarana yang digunakan untuk melaksanakan transoirasi tersebut dikenal dengan istilah transpirasi stomata, trnaspirasi kutikula dan transpirasi lentisel. Sehubungan dengan transpirasi, organ tumbuhan yang paling utama dalam melaksanakan proses ini adalah daun, karena pada daun dijumpai stomata paling banyak. Jika dibandingkan dengan transpirasi yang lain, transpirasi stomata paling banyak dilakukan (Sasmitamihardja, 1996).
Konduktan stomata rendah dapat menurunkan laju transpirasi sehingga air yang berada dalam mesofil daun dapat dimanfaatkan secara efisien pada proses fotosintesis (Zakaria, 1999) lebih lanjut oleh Gardner dkk (1991) dalam Nasaruddin (2006) mengemukakan konduktan stomata yang rendah  menyebabkan  suhu daun meningkat  sebab  transpirasi  rendah melalui permukaan daun. Stomata membuka karena meningkatnya pencahayaan (dalam batas tertentu) dan peningkatan cahaya menaikkan suhu daun sehingga air menguap lebih cepat naiknya suhu membuat udara mampu membawa lebih  banyak  kelembaban  sehingga transpirasi  meningkat  dan  akan mempengaruhi bukaan stomata (Salisbury dan Ross, 1995 dalam Nasaruddin (2006)).
Tingginya aktivitas fotosintsis juga dipengaruhi  oleh  suhu  di  sekitar pertanaman. Suhu akan meningkatkan perkembangan tanaman sampai pada batas tertentu. Suhu optimum untuk fotosintesis tergantung pada jenis tanaman dan kondisi lingkungan tempat tumbuhnya. Untuk tanaman kakao kisaran suhu optimum antara 26oC- 32oC. Peningkatan suhu dalam batas tertentu akan merangsang bukaan stomata untuk menyerap CO2 ke dalam mesofil daun. CO2 merupakan bahan  baku  sintesis  karbohidrat, kekurangan  CO2 akan  menyebabkan penurunan laju fotosintesis (Nasaruddin, 2006).


















IV.             METODE PENELITIAN
4.1       Alat dan Bahan
·              Alat
a)      Mikroskop
b)      Rak tabung
c)      Gunting tanaman
d)     Ember
e)      Gelas ukur 10 ml
f)       Timbangan

·              Bahan
a)      Batang pacar air (Impatiens balsamina)
b)      Batang Bauhinia sp.
c)      Minyak kelapa
d)     Kuteks bening
e)      Kertas grafik
f)       Kertas kuarto

g)      Air
Kel
Tumbuhan
Perlakuan
Laju Transpirasi
(ml/menit)
Jumlah
Stomata
(mikroskop)
Jumlah Stomata/mm2
Luas daun
Waktu
T
(ml)
G
(ml)
K
T
G
T
G
T
G
A
B
A
B
A
B
A
B
3 & 4
PACAR AIR
5
2
0
0
0,024
0,0016
1956,36
314,1
2956
2697
0,785
3,14
0,785
0,785
10
0
0
15
1
0,2
20
0
0
25
0
0
7 & 8
Bauhinia sp.
5
0,1
0,2
0
0,008
0,0016
68
81
3
11
30171,2
3592,2
591,6
2169,2
10
0
0,2
15
0,1
0,2
20
0
0,2
25
0
0,2
IV. HASIL PENGAMATAN
KETERANGAN
W= WAKTU  T= TERANG G= GELAP K= KONTROL A= ATAS B= BAWAH
II.                PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini kami melakukan percobaan mengenai proses penguapan air pada tumbuhan melalui proses transpirasi. Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui proses dan kecepatan penguapan air tumbuhan melalui proses transpirasi serta faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya proses transpirasi.  Dalam praktikum ini digunakan alat dan bahan antara lain yaitu gelas ukur, pisau, gunting, timbangan, mikroskop, kaca benda, kaca penutup dan bahan – bahan yang dibutuhkan adalah batang Impatiens balsamina dan Bauhinia sp., minyak kelapa, kertas kuarto, kertas grafik dan kuteks bening.
            Langkah – langkah dalam melakukan praktikum kali ini adalah menyiapkan alat dan bahan. Setelah itu mengisi 2 buah gelas ukur dengan air masing – masing sebanyak 7 ml, kemudian memotong batang Impatiens balsamina dan Bauhinia sp. di dalam air. Kemudian pada masing – masing gelas ukur diberi minyak kelapa hingga permukaan air tertutup oleh minyak. Setelah itu, 1 gelas ukur yang berisi tumbuhan diberi perlakuan yaitu diletakkan di luar ruangan yang terkena sinar matahari dan gelas ukur yang lain tetap diletakkan di dalam laboratorium. Hal ini dilakukan agar didapatkan perbandingan kecepatan transpirasi tumbuhan yang berkaitan dengan ada atau tidaknya cahaya matahari. Percobaan ini dilakukan selama 25 menit dan setiap 5 menit dihitung dan dilihat berkurangnya air pada gelas ukur dan hasilnya dituliskan pada tabel hasil pengamatan. Setelah itu meletakkan gelas ukur pada tempat yang teduh dan tempat terang, pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar  pengaruh cahaya terhadap tingkat transpirasi air pada daun. Laju transpirasi dihitung dengan melihat berkurangnya air pada gelas ukur seiring dengan waktu tertentu. Kemudian setelah data diperoleh, melakukan perhitungan stomata dengan menggunakan kuteks bening agar stomata mudah terlihat tanpa melibatkan proses pengirisan di mikroskop. Selain bertujuan untuk mempermudah langkah kerja, pemberian kuteks tidak merusak sel daun terutama pada epidermis yang didalamnya terdapat stomata, dengan mengggunakan kuteks bentuk stomata dapat dengan utuh terlihat sesuai dengan kondisinya. Sehingga penggunaan kuteks bening ini utuk mengamati stomata adalah teknik yang paling efisien.
Transpirasi adalah proses kehilangan air dalam bentuk uap air dari jaringan tumbuhan melalui stomata, kutikula dan lentisel. Kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangna tersebut sangat kecil dibanding dengan yang hilang melalui stomata. Sebagian besar dari air, sekitar 99 persen, yang masuk kedalam tumbuhan meninggalkan daun dan batang sebagai uap air. Proses tersebut dinamakan transpirasi. Sebagian besar dari jaringan yang terdapat dalam daun secara langsung terlibat dalam transpirasi.
Laju transpirasi dipengaruhi oleh struktur anatomi daun (jumlah stomata tiap satuan luas permukaan daun, ukuran tumbuhan, sel daun mempunyai potensial osmotik tinggi), kadar CO2, cahaya, suhu, aliran udara, kelembaban, dan tersedianya air tanah. Pada percobaan ini untuk membuktikan apakah transpirasi dipengaruhi oleh besar kecilnya daun, jumlah stomata per satuan luas permukaan atas dan bawah daun, jumlah daun, serta luas daun, sedangkan tebal tipisnya daun dan kelembaban tidak diukur.
Pemberian minyak kelapa ini bertujuan agar air tidak mengalami penguapan dan akhirnya dapat diketahui penguapan air yang terjadi hanya karena aktivitas tumbuhan atau dengan kata lain untuk menutupi air sehingga air tidak dapat menguap secara bebas melainkan air akan stabil terserap karena tumbuhan. Sedangkan pemotongan batang di dalam air ini berfungsi untuk mencegah timbulnya rongga udara di dalam xylem, selain itu juga untuk menjaga agar tanaman tetap segar .
Dalam mengetahui pengaruh sinar matahari terhadap kecepatan transpirasi, maka pada praktikum kali ini praktikan meletakkan gelas ukur yang telah berisi tumbuhan pada dua tempat yang berbeda, yaitu pada tempat teduh (dalam ruangan) serta tempat terik (diluar ruangan yang terdapat sinar matahari). Dalam setiap interval waktunya praktikan selalu mencatat perubahan voleme air yang terjadi. Penghitungan volume dilakukan dengan cara membaca volume yang sudah tertera pada gelas ukur berdasarkan tinggi air yang tersisa. Sedangkan untuk mengetahui pengaruh besar kecilnya daun terhadap proses transpirasi, maka praktikan melakukan pengukuran luas daun.
Pengukuran luas daun dapat dilakukan dengan cara mengetahui terlebih dahulu luas kertas utuh yang mana pada kelas A menggunakan kertas A4, kemudian menimbang massa kertas serta menimbang massa jiplakkan pada daun. Setelah diperoleh suatu hasil, maka hasil inilah merupakan Luas daun. Sedangkan dalam mencari laju trasnpirasinya dengan rata-rata interval (ml) dibagi dengan jumlah waktu selama 25 menit. Sehingga dalam hal ini diperoleh suatu satuan untuk laju traspirasi yaitu dalam ml/menit.
Pada kelompok 3 & 4 mengamati mengenai laju transpirasi pada Impatiens balsamina yang mana ada 2 perlakuan yang dilakukan yaitu menaruh medium yang ingin diamati pada tempat teduh dan satunya lagi pada tempat terang. Hal ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan peletakkan kedua perlakuan tersebut. Berdasarkan dengan hasil pengamatan diperoleh laju transpirasi yang mana dinyatakan dengan volume pada pacar air menunjukkan bahwa volume dan kecepatan menyerap air di tempat teduh lebih tinggi dari pada ditempat terik. Pada laju traspirasi terang ialah 0,024ml/menit dan luas daunnya ialah 109,7 mm2, sedangkan pada laju transpirasi malam hari ialah 0,0016 ml/menit dan luas daunnya ialah 73,14 mm2.
Dalam hal ini kelompok 3 & 4 sesuai dengan literatur, yang mana pada kondisi terang lebih luas dari pada pada tempat teduh. Daun yang mana relatif melebar memiliki suatu kemampuan untuk menangkap cahaya yang lebih banyak dibandingkan daun yang memiliki ukuran yang sempit. Apabila permukaan daun semakin besar maka, transpirasi yang terjadi pada tumbuhan yang memiliki luas permukaan yang luas lebih banyak dibandingkan dengan tumbuhan yang memiliki luas permukaan yang cenderung kecil. Dalam hal ini stomata merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam menjalankan suatu proses transpirasi. Hal ini dapat terjadi karena pada proses transpirasi berlangsung melalui stomata. Apabila stomata membuka maka terjadilah suatu proses transpirasi, sebaliknya apabila stomata menutup maka proses transpirasi tidak terjadi.
Pada kelompok 7 & 8 mengamati mengenai laju transpirasi pada Bauhinia sp. yang mana terdapat 2 perlakuan yang sama dengan kelompok 3&4 yaitu mengamati pada tempat teduh dan pada tempat gelap. Berdasarkan dengan data yang diperoleh maka pada kondisi terang,  kelompok 7&8 laju transpirasinya ialah 0,0016 m/menit sedangkan luas daun keadaan terang 348,3 mm2 dan pada kondisi teduh laju transpirasinya 0,008 m/menit serta sedangkan luas daun keadaan gelap 154,8 mm2. Berdasarkan dengan data tersebut maka pada kelompok 7&8 ini tidak sesuai dengan literatur, yang mana karena daun pada kondisi teduh lebih luas dan laju transpirasi lebih cepat dibandingkan dengan pada kondisi terang.
Setelah selesai mengamati laju trasnpirasi pada kedua bahan maka mengamati dibawah mikroskop dengan memberi kuteks pada daun bagian atas dan bawah. Setelah melakukan pengamatan dibawah mikroskop dengan melihat stomata pada bagian atas dan bawah daun, maka melakukan suatu perhitungan untuk mengetahui jumlah stomata. Pada kelompok 3 & 4, daerah terang pada epidermis atas ialah 139,74 buah stomata sedangkan pada epidermis bawah ialah 34,9 buah stomata. Pada kelompok 7 & 8, daerah terang pada epidermis atas 30171,2 buah stomata dan pada epidermis bawah ialah 35939,2 buah stomata. Pada daerah teduh jumlah stomata pada kelompok  3&4 pada epidermis atas ialah 2946 buah stomata dan 2697 buah stomata pada epidermis bawah. Sedangkan pada kelomppok 7&8 pada epidermis atas ialah 591,6 buah stomata dan 2169,2 buah stomata pada epidermis bawah. Berdasarkan dengan data tersebut maka dapat dikatakan bahwa pada kondisi terang Bauhinia sp. lebih banyak memiliki stomata dibandingkan dengan Impatiens balsamina yang mana terlihat bahwa lebih sedikit. Namun pada kondisi teduh Impatiens balsamina  lebih banyak memiliki stomata dibandingkan dengan Bauhinia sp.  Pada pengamatan tersebut maka, dapat dilihat bahwa jumlah stomata sangat mempengaruhi suatu proses dan kecepatan transpirasi. Sehingga semakin banyak stomata maka semakin cepat laju proses transpirasi.
III.                  PENUTUP
7.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang diamati mengenai “Penguapan Air Melalui Proses Transpirasi“ dapat disimpulkan, proses membuka dan menutupnya stomata terjadi karena perubahan atau adanya pengaturan turgor sel penutup. Tekanan turgor terbentuk oleh adanya aliran air dari sel-sel sekitarnya. Keluar masuknya air dari dan ke sel penutup pada dasarnya adalah peristiwa osmosis (difusai air melalui membran). Masuknya air secara osmotik ke sel penutup membuat stoma membuka. Sebaliknya, stoma akan menutup seiring dengan keluarnya air dari sel penutup ke sel-sel sekitarnya. Banyak faktor mempengaruhi aktivitas buka-tutupnya stomata. Kondisi lingkungan tersebut antara lain seperti konsentrasi CO2, suhu, kelembaban udara, intensitas pencahayaan, dan kecepatan angin. Faktor yang mempengaruhi dalam praktikum kali ini ialah;
1.      Faktor dari luar tumbuhan
a.       Cahaya
b.      Termperatur
c.       Kelembaban
d.      Angin
e.       Penyerapan air
f.       Ketersediaan air
2.      Faktor dari dalam tumbuhan;
(i)                 Laju permukaan daun
(ii)               Stomata
(iii)             Jumlah daun
(iv)             Struktur anatomi
(v)               Sel daun mempunyai potesial osmotik tinggi
7.2 Saran
Sebaiknya sebelum asisten menyuruh untuk membawa tumbuhan, ada kalanya sudah ditentukan terlebih dahulu sehingga bahan yang dibawa praktikum tidak sia-sia. Serta mikroskop dapat diperlengkapi karena masih ada mikroskop yang tidak bisa melakukan perbesaran tinggi serta sedikitnya jumlah mikroskop membuat praktikan lama untuk melakukan pengamatan. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar